WBS; Dalam Dekapan Ukhuwah "Prolog Dua Telaga"

Inilah Kisah tentang dua telaga, yang dengannya juga kisah tentang dua manusia yang sempurna katanya. Perbedaan keduanya adalah yang satu nyata sedangkan yang lain maya.
Telaga pertama,
Ia nyata, tapi tak ada di dunia, jika dibentangkan, cukuplah telaga itu menutupi Ailah di Syam hingga San'a di Yaman. Di sanalah seorang mulia atas izin Allah bersuka cita memberikan satu demi satu orang-orang yang melewati telaganya minuman yang ditafsirkan lebuih wangi dari kasturi, lebih manis dari madu, lebih lembut dari susu, dan lebih sejuk dari salju. Barang siapa meminumnya, dia tak kan lagi kehausan selamanya.
Ada hal yang menggelisahkan dari kejadian itu, yaitu ternyata tidak semua orang bisa meminumnya. ketika satu dua atau beberapa orang dihalau dari telaga itu, berkaca-kacalah sang manusia mulia dan berbicara, " Yaa Robbi, Mereka bagian dariku, mereka ummatku". walaupun pada akhirnya perkataan iu dijawab dengan kalimat yang membuat banyak hal harus direnungi. khususnya tentang apa-apa yang kita lakukan di dunia. jawabannya adalah, "Engkau tak tahu apa yang mereka lakukan sepeninggalmu". Dan hari ini, kita tahu betul apa yang kita sering lakukan juga apa yang sering kita lewatkan. Akankah kita merasakan air dari telaga itu, Telaga Rasul yang mulia yang selalu emikirkan umatnya. Telaga Kautsar?
Telaga kedua
Ia maya, tapi melegenda. konon katanya ada dalam cangkungan hutan di Yunani. dari kisah danau ini, kita akan mengenal asal muasal kata "ekho" dan "narsis". Inilah kisah seorang peri yang meneriakan kutukan di sebuah lembah hingga menjadi gema dan gaung. Kutukan itu ditujukan kepada seorang yang telah menolak cintanya, Narcissus. dia terkutuk untuk bisa mencintai tanpa bisa menyentuh, tanpa bisa merasakan, tanpa bisa memiliki. dia mencintai dirinya sendiri.
Karena kutukan itu, Narcissus terpesona di tepi telaga. meilihat pantulan wajahnya sendiri yang tercermin dan mengalihkan dunianya. dia lupa segalanya. yang dilakukannya hanya terpana memandangi bayangan dirinya. tubuhnya semakin melemah hingga akhirnya dia jatuh dan tenggelam.
Kejadian setelah itulah yang membuat kita harus banyak merenungi diri. sebuah dialog direkam dalam sebuah karya berjudul The Alchemist. percakapan ini terjadi anatara peri hutan dan telaga tempat tenggelamnya Naricissus yang konon katanya, rasanya berubah menjadi asin karena setelah meninggalnya Naricissus Ia menangis.
Peri: Mengapa Kau Menangis?
Telaga : Aku menangisi Narcissus
Peri: Oh Tak heranlah kau tangisi dia. semua penjuru hutan selalu mengaguminya, namun hanya kau yang bisa menakjubi keindahannya dari dekat
Telaga: Oh, Indahkah Narcissus?
Peri: Siapa yang mengetahuinya lebih daripadamu? di dekatmulah tiap hari dia berlutut mengagumi keindahannya
Telaga: Aku menangisi Narcissus, tetapi aku tak pernah kuperhatikan bahwa dia indah. Aku menangis karena, kini aku tak bisa memandang keindahanku sendiri yang terpantul di bola matanya tiap kali dia berlutut di dekatku.
***********
Perbedaan Narcissus dan Rasulullah saw adalah, bahwa Narcissus mengagumi diri sendiri an menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian bagi segala apa yang ada di sekelilingnya. Sedangkan manusia mulia itu, Muhammad saw menjadikan semua orang yang ada disekitarnya menjadi pusat perhatiannya sehingga mereka, ketika berada di sisi Beliau saw merasa menjadi orang yang paling dicinta dan yang paling berharga.
Maka puncak dari sebuh pengaruh (infulence) akan terbentuk saat seseorang berhasil menghijrahkan dirinya dari seorang Narcissus mendekat meneladani Muhammad.
"Dalam Dekapan Ukhuwah; kita memulai segalanya dari satu kata, 'Iman'"
"Iman itu membenarkan dalam hati, ikrar dengan lisan, dan amal dengan perbuatan"
"Sementara itu kita faham bahwa yang di hati tersembunyi, lisan bisa berdusta, dan amal bisa dipura-pura."
"Maka Allah dan Rasulnya meletakkan banyak ukuran iman pada kualitas hubungan kita dengan sesama"
"Sabda Nabi saw, 'jangan kalian saling membenci, jangan kalian saling mendengki, dan jangan saling membelakangi karena permusuhan dalam hati.......tetapi jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara...."
"Puncak dari segala hubungan yang dilandasi iman adalah taqwa. Sebab firman-Nya tentang penciptaan insan yang berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal ditutup dengan penegasan bahwa kemuliaan terletak pada ketaqwaan"
"Itulah persaudaraan kita; sebening prasangka, sepeka nurani, sehangat semangat, senikmat berbagi, sekokoh janji"
Pertanyaan besar untuk kita hari ini, lebih dekat kemanakah kita? seorang naricissus yang mengagumi diri sendiri atau seorang Muhammad yang begitu mencintai orang lain?
_________________________________________________________________________
di Ambil dari buku Dalam Dekapan Ukhuwah karya Ust. Salim A Fillah
Salam Tinta -GMJ-
Tidak ada komentar: